Langsung ke konten utama

Surabaya: Kota Pusaka (3)

Setelah pada blog sebelumnya membahas tentang pusaka budaya ragawi, untuk blog ini kita akna membahas tentang pusaka budaya tak ragawi. Merupakan suatu kekayaan masa lalu yang sifatnya abstrak, tidak terwujud secara fisik, teapi mengandung nilai, manfaat, makna, keahlian dan lain-lain yang sangat tinggi dan bermanfaat bagi kehidupan. UNESCO menegasakan bahwa, “Warisan budaya tak benda” adalah berbagai praktek representasi, ekspresi, pengetahuan, ketrampilan yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok dan dalam hal tertentu perseorangan sebgai wujud warisan budaya meeka (sumber konvensi UNESCO untuk Perlindungan terhadap Warisan Budaya Tak Benda, 2003

1. Seni Ludruk
Seni Ludruk
Satu dari puluhan seni tradisional yang hampir mengalami kepunahan adalah ludruk. Kesenian tradisional ini bernasib hampir sama dengan seni tradisional lainnya seperti wayang dan ketoprak. Ludruk merupakan drama tradisional yang diperankan oleh sebuah grup kesenian dalam sebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari. Pertunjukannya diselingi lawakan dan diiringi gamelan.

Kesenian ini sekarang masih bias di nikmati di Surabaya Mall People Amusement Park (THR) dan Taman Budaya Cak Durasim, walaupun pertunjukannya digelar tidak rutin. Perkumpulan Ludruk yang kini masih tersisa di Surabaya di antaranya Ludruk Irama Budaya, yang menetap di gedung Pulo Wonokromo, Ludruk RRI, masih ada karena adanya program siaran Ludruk, dan beberapa kelompok yang masih main apabila ada tanggapan (undangan), seperti Sidik CS dan Kartolo CS.(sumber: dinas Pariwisata Kota Surabaya).

2. Tari Reog

Tari Remo

Tari Remo merupakan tari selamat datang khas Jawa Timur yang menggambarkan kharakter dinamis Masyarakat Surabaya / Jawa Timur Yang dikemas sebagai gambaran keberanian seorang pangeran.tarian itu diiringi dengan musik gamelan dalam suatu gending yang terdiri dari bonang, saron, gambang, gender, slentem, siter, seruling, ketuk, kenong, kempul dan gong dan irama slendro.

Biasanya menggunakan irama gending jula-juli Suroboyo tropongan, kadang kadang diteruskan dengan walang kekek,gedong rancak, krucilan atau kreasi baru lainnya. Tari remo dapat ditarikan dengan gaya wanita atau gaya pria baik di tampilkan secara bersama-sama atau bergantian. biasanya tari ini di tampilkan sebagai tari pembukaan dari seni ludruk atau wayang kulit jawa timuran.

Penarinya menggunakan jenis kostum yaitu sawonggaling atau gaya surabaya yang terdiri dari bagian atas hitam yang menghadirkan pakaian abad 18,celana bludru hitam dengan hiasan emas dan batik, dipinggang ada sebuah sabuk dan keris, dipaha kanan ada selendang menggantung sampai kemata kaki. Penari perempuan memakai simpul(sanggul) di rambutnya di sebutkan bahwa tarian remo ini di promosikan sekitar tahun1900, yang kemudian dimanfaatkan oleh nasionalis indonesia untuk berkomunikasi kepada masyarakat.( Sumber: Dinas Pariwisata Kota Surabaya)

3. Undukan Doro
Undukan Doro, Undukan Burung Dara (Merpati), Merupakan adu balap burung merpati yang di negara lain belum ada, dengan mengadu dua atau lebih pasangan merpati. Merpati jantan dilepaskan dari jarak 1.000-1.300 meter sedangkan yang betina dipegang dengan cara di Geber oleh seorang joki Merpati yang cepat sampai adalah yang menang. Keseniantradisional ini dulu sering dilakukan pada saat panen padi usai. Akan tetapi di Surabaya dapat dinikmati dilapangan Jl. Suka Manunggal Jaya, Lapangan Water Park Pantai Ria Kenjeran, Lapangan Utara Taman Hiburan Pantai, Laguna, Tinjang dan Tambak Wedi.(sumber: Dinas Pariwisata Kota Surabaya)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batik Padi Boeloe Wiji Soeharto

Memasuki Desa Babagan, sebuah kawasan pecinan tempat batik Lasem masih dikembangkan sebagai industri rumahan. Ada beberapa rumah yang menjadi sentra pembuatan batik dan siang yang disertai hujan itu kami singgah di rumah Wiji Soeharto (Sie Hoo Tjauw) pengusaha batik Lasem dengan merk “Padi Boeloe”. Dengan ramah Wiji menyapa dan mempersilakan kami melihat-lihat batik di rumah tuanya. Alm. Pak Widji Soeharto (sumber: suaramerdeka.com) Gaya dan tuturnya yang bersahaja membuat suasana cepat menjadi hangat seiring kisah-kisahnya yang tak beraturan perihal batik Lasem dan perjalanan dirinya. Satu persatu koleksinya dari yang paling sederhana hingga yang paling langka dibeberkan sambil menerangkan warna dan motifnya.  Kisah pilunya mengalir datar tentang minimnya minat pengusaha geluti batik Lasem saat ini dan secara otomatis akibatkan menurunnya tenaga kerja yang terserap. Berbeda dengan kisahnya di tahun 1970an saat-saat awal Wiji jalankan bisnis batik warisan orang tuanya ini, a...

Emboh …. ga eruh….. (1)

sebuah coretan ga penting   Buram pandangannya sudah, lebih dari 70 tahun dia menikmati asam garam dunia ini, terkadang terasa nikmat garam dunia malah juga terkadang malah membuat perih jika di taruh diatas luka jiwa ini. Terkadang asam ini nikmat sekali apalagi di tambahi dengan potongan sayuran yang mak nyus dan membuat aku   ngiler   terus , tapi suatu waktu asam itu membuat perut teriris tatkala lambung ku meradang. Yaah itulah pengalamannya. Dia terkadang mersa sudh capek memikul badannya. Tapi mau bagaimana lagi, lawong perut serta istrinya juga masih perlu makan. Apa yaaa tega melihat sang pujaan hati yang sudah menemaninya hidup selama 50 tahun itu kelaparan?? Kliatannya dia itu tipe-tipe suami yang bertanggung jawab kok dengna keluarga nya Tubuhya renta terkadang kalah dengan cuaca. Yang   terkadang cuaca tersebut tak menenntu , kadang angin disertai terik matahari yang   sangat panas, atau malah lwannya, yaitu hujan lebat disertai dengan pe...

wisata asyik mengitari candi Pawon , magelang

Siapa yang pernah berwisata ke Candi Pawon??? Atau malah sebagian besar kita malah ndak tau dmana letak nya. Candi Pawon berada di jalur menuju borobudur dari arah Pabelan (jalan Jogja - Magelang). letaknya lebih kurang 6,5 km dari ujung jalan pabelan tersebut. Memang secara keterkenalan kompleks candi Pawon kalah tenar dengan dua candi pegapitnya, yaitu candi Borobudur ( berjarak 1750 m) dan candi Mendut (berjarak 1150 m) .  Candi Pawon dipugar tahun 1903. Nama Candi Pawon tidak dapat diketahui secara pasti asal-usulnya. J.G. de Casparis menafsirkan bahwa Pawon berasal dari bahasa Jawa Awu(=abu) mendapat awalan pa dan akhiran an yang menunjukkan suatu tempat. Dalam bahasa Jawa sehari-hari kata pawon berarti dapur., akan tetapi casparismengartikan perabuan.  Penduduk setempat juga menyebutkan candi Pawon dengan nama Bajranalan. Kata ini mungkin berasal dari kata Sansekerta Vajra (=halilintar) dan anala (=api). Di dalam bilik candi ini sudah ditemukan lagi arca sehi...