Langsung ke konten utama

inSpiring STOrY



Teman apakah kita pernah melihat sebuah cangkir, yang indah diluarnya dihiasi dengan gambar bunga, atau ucapan kasih sayang untuk orang terkasih? Tapi apakah kita pernah berpikir betapa lama proses untuk mendapatkan cangkir secantik itu?
Mungkin jika si cangkir itu bisa berkata dan berbagi cerita manisnya untuk menjadi cangkir yang indah, dia pasti akan mengatakan sebagai berikut:

Terima kasih penikmat cangkir, jika saja kalian tau apa yang kurasakan sebelum menjadi cangkir ini, tentu kalian akan memandang ku sebelah mata, mngapa? Karena aku sebelumnya hanya terbuat dari sebuah tanah liat yang tak mungkin memiliki estetika apalagi menjadi penghias di lemari pajang di ruang tamu.
Tapi suatu hari aku diambil oleh seorang pengrajin tembikar, dibawanya aku ke meja putar. Disana aku diputar-putar, di pukul-pukul, disirami air, padahal pada waktu itu aku sudah berteriak STOP, STOP, hentikan aku sudah tidak kuat lagi, tolong hentikan ini semua.
Malah sebaliknya yang terjadi padaku, semakin aku berteriak semakin keras pengrajin itu memukul-mukulku dan memutar ku dimeja putarnya. Akhirnya aku pasrah saja, ku akhirnya sudah terbiasa.
Setelah beberapa saat pengrajin itu berhenti memukul, dan memutarku, EUREKA EUREKA, teriakku bahagia, tapi tak lama setelah itu dibawanya aku ke sebuah tempat, kulihat dibawah tempat itu, anak buah perngrajin tersebut sedang memasukkan kayu bakar, aku pn bertanya-tanya, akan diapakan lagi diri ku ini.
Akhirnya aku dimasukkan ke sebuah tempat yang panas dan panas sekali, sekali lagi aku meronta dan memberontak untuk keluar dari tempat tersebut, tapi semakin aku meronta semakin aku merasa sakit karena panasnya tempat tersebut.
Setengah jam tlah berlalu pengrajin tersebut mengeluarkan aku, tetapi orang tersebut berkata ini baru separuh jalan yaaa ,masih ada tahap berikutnya.
Aku bertanya siksaan apa lagi yang harus aku terima???
Sampailah aku ditempat banayk kepulan asap yang berwarna-warni, kepulan itu menyesakkan pernafasanku, disemprotkanlah asap itu ke seluruh badanku dan hingga merata, setelah merata dibawanya aku kembali ketempat perapian yang sangat panas tadi, STOOOOOOOOOOOOOOPPPPP, STOOOOOOOOPPP, AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGIIIIIIII, tapi aku tetap dimasukkannya, pasrahlah aku,
Setelah setengah jam aku di panggang untuk kedua kalinya , aku dikeluarkan dari tempat tersebut dan diangin-anginkan sampai dingin, setelah itu dibawakannya cermin untukku berkaca, BETAPA terkejutnya aku setelah melihat diriku yang sekarang.

Dari seonggok tanah liat yang lengket dan kotor menjadi sebuah cangkir yang cantikdan berharga mahal. Inilah aku sekarang SEORANG PEMENANG .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batik Padi Boeloe Wiji Soeharto

Memasuki Desa Babagan, sebuah kawasan pecinan tempat batik Lasem masih dikembangkan sebagai industri rumahan. Ada beberapa rumah yang menjadi sentra pembuatan batik dan siang yang disertai hujan itu kami singgah di rumah Wiji Soeharto (Sie Hoo Tjauw) pengusaha batik Lasem dengan merk “Padi Boeloe”. Dengan ramah Wiji menyapa dan mempersilakan kami melihat-lihat batik di rumah tuanya. Alm. Pak Widji Soeharto (sumber: suaramerdeka.com) Gaya dan tuturnya yang bersahaja membuat suasana cepat menjadi hangat seiring kisah-kisahnya yang tak beraturan perihal batik Lasem dan perjalanan dirinya. Satu persatu koleksinya dari yang paling sederhana hingga yang paling langka dibeberkan sambil menerangkan warna dan motifnya.  Kisah pilunya mengalir datar tentang minimnya minat pengusaha geluti batik Lasem saat ini dan secara otomatis akibatkan menurunnya tenaga kerja yang terserap. Berbeda dengan kisahnya di tahun 1970an saat-saat awal Wiji jalankan bisnis batik warisan orang tuanya ini, a...

perjalanan Lasem (1/2)

Pak Widji Soeharto (alm)  Batik Padi Boeloe Wiji Soeharto Memasuki Desa Babagan, sebuah kawasan pecinan tempat batik Lasem masih dikembangkan sebagai industri rumahan. Ada beberapa rumah yang menjadi sentra pembuatan batik dan siang yang disertai hujan itu kami singgah di rumah Wiji Soeharto (Sie Hoo Tjauw) pengusaha batik Lasem dengan merk “Padi Boeloe”. Dengan ramah Wiji menyapa dan mempersilakan kami melihat-lihat batik di rumah tuanya. Gaya dan tuturnya yang bersahaja membuat suasana cepat menjadi hangat seiring kisah-kisahnya yang tak beraturan perihal batik Lasem dan perjalanan dirinya. Satu persatu koleksinya dari yang paling sederhana hingga yang paling langka dibeberkan sambil menerangkan warna dan motifnya. Kisah pilunya mengalir datar tentang minimnya minat pengusaha geluti batik Lasem saat ini dan secara otomatis akibatkan menurunnya tenaga kerja yang terserap. Berbeda dengan kisahnya di tahun 1970an saat-saat awal Wiji jalankan bisnis batik warisan orang tu...

Belajar Hidup Ketika Berjalan di Jalan Raya

Sebagian dari kita sudah pasti pernah melakukan perjalanan, baik dalam kota maupun luar kota. Melewati jalan sempit, jalan perkotaan hingga jalan raya yang dimana semua jenis kendaraan berada disitu. Ada pula jalan tol yang tidak semua orang bisa melewatinya, bisa melewatinya tetapi ada syarat yang berlaku. Saya merasa akan menjadi seorang penguasa jalan tersebut ketika kendaraan yang saya pacu itu dapat melewati beberapa kendaraan lainnya, becak, delman, sepada, sepada motor, mobil roda emat hingga roda lebih dari enam buah. Ketika Anda mendahului becak sedang Anda menggunakan sepeda motor sudah bisa dipastikan tidak ada hambatan yang berarti, tetapi jika kita menggunakan sepeda itu akan terasa sulit jika akan mendahului sepeda motor. Jika bisa itupun karena sepeda motor harus mengantri untuk bisa melanjutkan perjalanan berikutnya. Lantas apa IMPIAN kita atau mau jadi apa kita ketika berada pada jalan yang banyak rupa ini. Mau jadi sebuah becak, yang dimana di sebagian kota besar...