Langsung ke konten utama

Kebebasan atau Kebablasan



Sudah empat belas tahun indonesia menapaki era reformasi. Tapi perubahan yang berarti hanya saya rasakan pada ranah gerak media informasi. Kalau diera akhir 1980an masih ada dua stasiun televisi – satu nasional dan satu swasta- saat ini entah sudah ada berapa stasiun tv yang berjibaku mencari penonton sebagai mata pencaharian mereka. Mutu atau tidaknya acara yang mereka tayangkan tidaklah penting asal menghibur. Karena memang itulah yang diinginkan masyrakat, hiburan.

Lemahnya penegakan hukum dan juga kurang jelas nya visi bangsa guna mencetak generasi penerus yagn bermutu, menjadikan acara-acara tersebut semakin seperti jamur yang tumbuh dimusim penghujan. Yaa hampir setiap bulan berbagai stasiun mengeluarkan judul sinetron atau kisah eksploitasi anak-anak yang menjadi dewasa sebelum waktunya. Mengenal istilah intim, sex, porno dan lainnya. Pertanyaannya adalah kalau saja mereka sadar- dalam hal ini adalah pemangku kebijakan (pak menteri dan setingkatnya)- tentu hal ini tidaklah terjadi.

Shincan yang di negeri nya merupakan konsumsi dewasa, disini malah dijadikan konsumsi anak yang baru mengenal nasi. Sinetron yang mengumbar kesaktian barang-barang tertentu menjadi film wajib disaat jam belajar anak-anak.

Saya heran kepada kebanyakan orang tua, mengapa mereka menonton televisi saat anaknya belajar. Disaat mau ujian mereka kelimpungan cari mbah dukun untuk meluluskan anak-anaknya. Itulah realita.

Kembali dengan permasalahan media kita bersama. Media diciptakan untuk mengenalkan, mendidik, dan juga memberi informasi serta menghibur bagi penontonnya. Tapi sekarang mereka punya tambahan peran yaitu merusak. Ya, merusak moral dan juga otak anak serta sebagian penduduk Indonesia yang haus akan keajaiban setelah reformasi ini.

Wakil rakyat yang mengibuli rakyat, mahasiswa yang menjadi sapi perah pengusaha, akademisi yang takut miskin karena idealisnya, profesor yang bingung bagaimana menjadi seorang pelopor, aktivis yang tak jauh bentuknya dengan pengemis jabatan berwajah sinis ke pemerintah dan juga legeslatif, atau bahkan penulis ini yang bisa hanya mengkritik. Hampir sulit saya temukan jalan keluar bangsa ini untuk menemukan solusi masalahnya.

Sewaktu SD, saya ingat betul kalau di Kalimantan ,Sulawesi dan juga Irian –saya lebih suka memanggilnya sebgai irian- dikenal sebagai sumur-sumur minyak dan emas kita, tapi malah jawa saja yang tambah kaya dan makmur.

Sewaktu SD, saya ingat juga jika pulau-pulau yang mengelilingi sebagai pagar depan bangsa ini berjumlah lebih dari seratus biji, tapi kenapa mereka masih miskin dan terasing di negeri pertiwi ini.

Saat TK, saya diajari dahulukan kepentingan masyarakat kesampingkan urusan pribadi , mengapa para pemimpin, aktivis, mahasiswa saat ini lebih mementingkan diri sendiri??

Mahasiswa yang lupa dengan keinteltualannya. Orang tua yang kaya tapi miskin moral dalam mendidik anaknya. Ya betul tidak semua tapi sebagian agak besar negeri kita seperti ini.

Indonesia bebas Indonesia kebablasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batik Padi Boeloe Wiji Soeharto

Memasuki Desa Babagan, sebuah kawasan pecinan tempat batik Lasem masih dikembangkan sebagai industri rumahan. Ada beberapa rumah yang menjadi sentra pembuatan batik dan siang yang disertai hujan itu kami singgah di rumah Wiji Soeharto (Sie Hoo Tjauw) pengusaha batik Lasem dengan merk “Padi Boeloe”. Dengan ramah Wiji menyapa dan mempersilakan kami melihat-lihat batik di rumah tuanya. Alm. Pak Widji Soeharto (sumber: suaramerdeka.com) Gaya dan tuturnya yang bersahaja membuat suasana cepat menjadi hangat seiring kisah-kisahnya yang tak beraturan perihal batik Lasem dan perjalanan dirinya. Satu persatu koleksinya dari yang paling sederhana hingga yang paling langka dibeberkan sambil menerangkan warna dan motifnya.  Kisah pilunya mengalir datar tentang minimnya minat pengusaha geluti batik Lasem saat ini dan secara otomatis akibatkan menurunnya tenaga kerja yang terserap. Berbeda dengan kisahnya di tahun 1970an saat-saat awal Wiji jalankan bisnis batik warisan orang tuanya ini, a...

perjalanan Lasem (1/2)

Pak Widji Soeharto (alm)  Batik Padi Boeloe Wiji Soeharto Memasuki Desa Babagan, sebuah kawasan pecinan tempat batik Lasem masih dikembangkan sebagai industri rumahan. Ada beberapa rumah yang menjadi sentra pembuatan batik dan siang yang disertai hujan itu kami singgah di rumah Wiji Soeharto (Sie Hoo Tjauw) pengusaha batik Lasem dengan merk “Padi Boeloe”. Dengan ramah Wiji menyapa dan mempersilakan kami melihat-lihat batik di rumah tuanya. Gaya dan tuturnya yang bersahaja membuat suasana cepat menjadi hangat seiring kisah-kisahnya yang tak beraturan perihal batik Lasem dan perjalanan dirinya. Satu persatu koleksinya dari yang paling sederhana hingga yang paling langka dibeberkan sambil menerangkan warna dan motifnya. Kisah pilunya mengalir datar tentang minimnya minat pengusaha geluti batik Lasem saat ini dan secara otomatis akibatkan menurunnya tenaga kerja yang terserap. Berbeda dengan kisahnya di tahun 1970an saat-saat awal Wiji jalankan bisnis batik warisan orang tu...

Weton - ku

Misteri Pranata Mangsa Oleh: Ki Hudoyo Doyodipuro, Occ Nama: Priyo Atmo Sancoyo Tgl. Lahir: 22 Juni 1989 Weton: Kamis Legi Mongso: Saddha Wuku: Sinta Dibawah ini adalah penjabaran Sifat/Karakter orang yang lahir pada Weton/Mongso/Wuku tersebut.. 1. Weton anda adalah Kamis Legi . Sifat/karakter orang yang lahir pada Weton tersebut, adalah:Mereka yang lahir pada hari Kamis Legi memiliki cita-cita yang mulia dan nilai-nilai yang tinggi. Mereka terkadang amat bijaksana, dikarenakan kemampuannya untuk melihat prospek jangka panjang dari suatu hal. Walaupun demikian, mereka harus mampu bersikap tabah dan berhati-hati jika ingin melihat keberhasilan ide-ide mereka yang besar. Masalahnya, meskipun kalangan ini cenderung berpandangan luas, mereka sering terjerumus dalam pernik-pernik kehidupan sehari-hari. Mereka termasuk tipe yang selalu membutuhkan pujian. Namun, kemungkinan dukungan tidak terlalu sulit diperolehnya, sebab mereka biasanya dikelilingi oleh banyak teman (kelompok ini terkenal ...